Rabu, 08 Juni 2016

Resensi novel


Sinopsis Novel Pulang Karya Tere Liye
         Novel ini dimulai dengan ketegangan. Bab pertama, Si Babi Hutan (halaman 1), dibuka dengan adegan pertarungan sang tokoh utama (Bujang) melawan monster menakutkan, babi hutan raksasa. Ia ikut serta bersama pemburu babi hutan pimpinan Tauke Muda. Di tengah hutan gelap mereka dihadang sang raja babi. Semua terdesak. Bujang tampil amat heroik. Mengalahkan sang monster. Sejak pergulatan itu, Bujang tak lagi memiliki rasa takut.
          “Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” Begitu Tere Liye membuka cerita dengan amat elegan.
          Pada bab-bab berikunya mulailah dikenalkan secara lebih mendalam tokoh Bujang beserta orang terdekatnya. Bapaknya bernama Samad. Ia yang lumpuh itu -kemudian diketahui- merupakan mantan tukang pukul nomor satu Keluarga Tong. Mamaknya bernama Midah, ia merupakan putri dari Tuanku Imam, pemuka agama di Pulau Sumatra. Pernikahan kedua insan dari strata dan kultur berbeda itu menyebabkan mereka harus terusir dari kampung, lantas menetap di Talang (semacam kampung) Kawasan Bukit Barisan, Sumatra.
         Kejadian melawan babi hutan menjadi awal kisah hidup baru bagi Bujang yang waktu itu masih 15 tahun. Tauke Muda mengajaknya pergi ke kota. Ia meminta Bapak dan Mamak Bujang mengizinkannya pergi. Bapaknya setuju, mamaknya berat melepaskan. Namun ia tak kuasa menolak. Ini adalah bagian dari perjanjian antara Bapak Bujang dengan Tauke Muda. Lagi pula ia ingin putra semata wayangnya itu maju. Tak hanya berkutat dengan hutan dan ladang di Talang. Sebelum keberangkatan sang anak, mamak menitipkan pesan yang begitu berharga,
          “Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (Halaman 24)
         Keseruan kisah novel ini terus berlanjut. Kini pembawa dibawa menuju waktu 20 tahun kemudian. Saat Bujang, anak Talang nan malang itu berubah menjadi pribadi yang sangat mantap. Akademis, kokoh, dan bermata tajam. Ia menemui calon presiden terkuat. Memperingatkannya agar tak mengubah apapun. Tak mengusik bagaimanapun bisnis Keluarga Tong yakni bisnis shadow economy(ekonomi bayangan).
           “Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka menjadi kecoa hitam dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenal oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak diliput media massa….. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap sandiwara kehidupan orang-orang. (Halaman 30)
        Begitulah penulis, dalam hal ini disampaikan lewat tuturan tokoh utama (Bujang) menjelaskan perihal shadow economy, singkat, jelas, terperinci, dan menghentak.
          Selepas itu alur kembali berkelindan ke masa lalu. Saat kali pertama Bujang sampai di kota. Bertemu banyak kawan baru. Salah satunya Basyir, seorang anak muda yang terobsesi menjadi seperti  ksatria penunggang kuda suku Bedouin. Kini jelas apa tujuan Bujang diajak oleh Tauke Muda. Ia akan dilatih seperti bapaknya, menjadi tukang pukul nomor satu Keluarga Tong.
         Meski begitu, jauh panggang dari api. Harapan itu menguap, bukannya berlatih silat dan beladiri, Bujang malah diminta belajar “memukuli kertas dengan pulpen” dibimbing Frans, guru asal Amerika. Bujang bosan. Ia lantas meminta Tauke mempersamakannya dengan teman yang lain: berlatih beladiri dan ikutoperasi.
          Tauke tetap pada pendirian. Hingga tiba saat kesabarannya hampir habis, Tauke menantang Bujang ikut ritual amok. Ritual itu simpelnya, satu orang melawan puluhan bahkan ratusan petarung. Jika satu orang itu mampu menahan gempuran dalam waktu tertentu, ia menang. Bujang hanya diminta bertahan dua puluh menit. Sayang ia hanya bertahan 19 menit. Ia gagal, sehingga ia tetap harus belajar bersama Frans.
         Namun hikmah dari peristiwa amok, ia bisa punya kesempatan belajar bela diri. Selepas belajar dengan buku dan pulpen di siang hari, ia belajar tinju di malam hari. Guru pertamanya adalah Kopong. Komandan tukang pukul Keluarga Tong. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia berlatih, amat keras. Akhirnya Bujang berhasil meng-KO gurunya itu. Itu artinya latihan tinjunya selesai dan harus berganti guru.
         Guru berikutnya tak kalah hebat, Guru Bushi namanya. Asli Jepang, ia adalah salah satu Samurai yang masih tersisa di zaman modern ini. Bersama Guru Bushi Bujang berlatih menggunakan pedang, katana, shuriken, dll. Latihan yang seru bersama mantan ninja yang andal itu. Berbulan-bulan Bujang terus berlatih. Hingga tiba saat Guru Bushi mengatakan cukup. Lantas Bujang berlatih dengan Salonga. Seorang penembak jitu asal Filipina. Dengan guru menembaknya itu ia juga belajar filosofi hidup. Selain berlatih beladiri, Bujang juga terus melanjutkan sekolah. Ia bahkan mengenyam pendidikan magister di luar negeri.
      Novel beralur maju mundur ini terus mengajak pembaca menikmati keseruan cerita. Pertarungan demi pertarungan yang mengesankan. Jua perihal ekspansi Keluarga Tong yang perlahan merangkak naik level dari penguasa shadow economytingkat provinsi menjadi penguasa shadow economy nasional bahkan internasional. Selalu ada intrik menarik di dalamnya.
       Hingga di satu titik. Saat Keluarga Tong di puncak kejayaan, pengkhianat muncul. Siapakah pengkhianat itu? Berhasilkah ia melumat kekuasaan Keluarga Tong? Lalu apa maksud pulang dalam novel ini? Kita akan menemukan jawabannya dalam novel keren ini.

Kelebihan Novel Pulang Karya Tere Liye
Berikut adalah beberapa kelebihan novel pulang karya Tere Liye.
Pertama. Tema yang berbeda.
        Tema yang dihadirkan berbeda dari yang lain. Masalah ekonomi dihubungkan dengan dunia kriminal. Dan juga  dikaitkan dengan unsur relijius serta perjuangan dan nilai kepahlawanan. kombinasi yang unik itu diracik sedemikian rupa oleh penulis menjadi racikan yang apik, sudut pandang yang ciamik. Penulis lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengungkapkan hal yang seolah tidak ada (shadow economy) dengan amat gamblang dan terperinci. Tentu perlu riset yang amat dalam untuk menguak tabir itu.
         Meski harus diakui genre ekonomi di komobinasikan dengan action. Namun jelas Pulang hadir dengan suasana yang baru. Unsur lokalitas, dalam hal ini pedalaman Sumatra, dan unsur relijius menjadi pembeda yang nyata dengan dua novel sebelumnya itu.
Kedua. Plot dan kejutan yang mengasyikan.
        Plot yang dihadirkan membuat pembaca penasaran untuk terus membaca kelajutan cerita. Berikut adalah contohnya.
          “Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang.” (Halaman 20). Kalimat seperti itu membuat pembaca penasaran, pertarungan hebat apa sih? Rasa penasaran tersebut menstimulus pembaca untuk terus membaca hingga tuntas, tanpa bosan.
         Selain itu alur maju mundur menambah rasa ingin tahu pembaca, baik masa lalu sang tokoh maupun cerita apa yang akan terjadi berikutnya.
        Kejutan-kejutan mengasyikan juga mewarnai novel ini. Sesuatu yang tak terbenak kemudian hadir menghentak. Contohnya adalah kejutan di bab “Tim Terbaik” dengan hadirnya White dan si kembar Yuki dan Kiko yang ternyata  punya kelindan dan hubungan dengan kehidupan Bujang sebelumnya. Dan tentu saja yang paling nendang adalah bagian pengkhianatan itu.



Ketiga. Pesan moral yang kuat.
          Inilah nilai paling kuat dalam novel Pulang (juga novel Tere Liye sebelumnya). Sebuah karya yang baik memang sudah selazimnya menyisipkan pesan moral, baik tersurat maupun tersirat. Penulis yang kini tinggal di Bandung ini amat piawai membungkus nasihat dan pemahaman hidup dengan kemasan yang cantik. Pembaca sama sekali tak merasa digurui atau dikhotbahi.
            Lebih dari itu, apabila para ahli sastra menyebut bahwa sastra (termasuk novel) memiliki fungsi moral dan didaktif-edukatif serta bermanfaat guna melembutkan jiwa, memperhalus moral, maka menurut hemat peresensi, novel ini telah memenuhi kriteria tersebut. Salah satu buktinya adalah adanya amanat untuk tetap optimis melanjutkan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Berikut kutipan pendukungnya.
            “Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit.” (Halaman 345)


Kekurangan Novel Pulang Karya Tere Liye
           Tak ada gading yang tak retak, begitu istilah yang familier kita dengar. Maknanya tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna. Apatah lagi jika itu berkaitan dengan karya manusia yang memang tak sempurna. Berkaitan dengan novel ini, peresensi menemukan beberapa kekurangan. Kekurangan yang amat minoritas sebenarnya tinimbang banyaknya kelebihan yang dimiliki. Kekurangan ini tentu sudah sangat tertutupi dengan ragam keunggulan yang sudah peresensi terangkan di atas. Ulasan kekurangan (yang bersifat subjektif) ini bertujuan sebagai saran, semoga bisa menjadi perbaikan di masa depan.
  Kurang membahas penguasa shadow economy di negeri sendiri.
          Setelah peresensi selisik, Keluarga Tong, yang, (dalam cerita ini) merupakan salah satu penguasa shadow economy di negeri ini lebih banyak bersinggungan dengan penguasa shadow economy di negara lain, utamanya Hongkong dan Makau. Lalu bagaimana persinggungan dengan penguasa shadow ecomony lainnya di dalam negeri? Memang ada namun kurang tergarap maksimal. Mungkin ini sengaja untuk membatasi cerita agar tak melebar ke mana-mana. Meski begitu menurut hemat peresensi jika saja pembahasan tentang penguasa shadow economydalam negeri lebih disinggung tentu hal tersebut lebih mantap. Meski begitu persinggungan dengan shadow economy negara asing menjadi nilai tersendiri dalam novel ini. Setting Hongkong, Makau, dan Filipina yang dideskripsikan apik menambah keindahan novel ini.

Kritik terhadap novel
            Novel “pulang” karya tere liye tidak cocok jika dibaca oleh kalangan dibawah umur karena mengandung bahasa yang tinggi dan juga mengandung unsur kekerasan yang dikhawatirkan dapat ditiru dan juga mengandung bisnis yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah diatur.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar