Cerpen Gagak Dan Bebek
Pada suatu hari seekor burung Gagak
sedang Terbang melintasi Hutan di suatu daerah. Dia baru saja diusir oleh
kelompoknya. Orangtuanya entah di mana. Ia hidup sebatang kara. Di dekat danau,
ia bertemu dengan Bebek. Burung Gagak menyapa Angsa yang sedang berenang di
danau di dekat hutan itu.
“Hai Bebek,
apa yang kau lakukan?” tanya si Gagak basa-basi.
“Tidakkah kau lihat aku sedang berenang, wahai Gagak yang jelek? Jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kau iri dengan keindahan buluku. Ya, buluku memang bersih, indah, tidak seperti kau yang hitam dan kusam.” Ejek Si Bebek. Burung Gagak merasa sedih. Ia terbang lagi mencari kawan baru. Di depan sebuah gua, ia bertemu dengan ular. Ular menjulur-julurkan lidahnya.
“Tidakkah kau lihat aku sedang berenang, wahai Gagak yang jelek? Jangan memandangku seperti itu. Aku tahu kau iri dengan keindahan buluku. Ya, buluku memang bersih, indah, tidak seperti kau yang hitam dan kusam.” Ejek Si Bebek. Burung Gagak merasa sedih. Ia terbang lagi mencari kawan baru. Di depan sebuah gua, ia bertemu dengan ular. Ular menjulur-julurkan lidahnya.
“Hei
jelek! Jangan menghalangi jalanku atau ku gigit kau!” katanya.
Lalu gagak bertemu dengan tupai,”jangan hinggap di pohonku,kau hanya merusak pemandagan saja !”
Lalu gagak bertemu dengan tupai,”jangan hinggap di pohonku,kau hanya merusak pemandagan saja !”
Gagak putus
asa. Dia menuju ke pohon lain. Hinggap dan bertengger di dahannya. Ia merenung,
kemudian seekor kupu-kupu mendekatinya.
“Jangan menghampiriku kalau kau juga hanya ingin menghinaku,” katanya. Wajahnya murung dan sedih.
“Kenapa kau murung dan sedih? Terbang dan bermainlah ke hutan bersamaku,” kata si kupu-kupu.
“Aku malu,”
“Jangan menghampiriku kalau kau juga hanya ingin menghinaku,” katanya. Wajahnya murung dan sedih.
“Kenapa kau murung dan sedih? Terbang dan bermainlah ke hutan bersamaku,” kata si kupu-kupu.
“Aku malu,”
“Kenapa?”
“Sayapmu indah. Sangat indah. Bercorak. Warna-warni, aku merasa rendah di hadapan kalian, tak ada sesuatu dariku yang bisa dibanggakan,” kata Gagak sedih.
“jangan pikirkan apa kata mereka, jadi apa yang kau inginkan mereka hanya ingin menurunkan semangatmu jangan di pikirikan karena hanya membuat mu semakin sedih,akupun dulu hanya sekedar ulat yang menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupudulu pun aku diejek namun tidak aku pikirkan,dan jadilah dirimu sendiri gagak”
“Sayapmu indah. Sangat indah. Bercorak. Warna-warni, aku merasa rendah di hadapan kalian, tak ada sesuatu dariku yang bisa dibanggakan,” kata Gagak sedih.
“jangan pikirkan apa kata mereka, jadi apa yang kau inginkan mereka hanya ingin menurunkan semangatmu jangan di pikirikan karena hanya membuat mu semakin sedih,akupun dulu hanya sekedar ulat yang menjadi kepompong dan menjadi kupu-kupudulu pun aku diejek namun tidak aku pikirkan,dan jadilah dirimu sendiri gagak”